Saturday, 18 March 2017

Berbagai Versi Sejarah Hidup Kian Santang

Sejarah Prabu Kian Santang dimulai ketika ia lahir pada tahun 1315 dari Prabu Siliwangi dan salah satu prameswarinya yang memiliki nama Dewi Kumala Wangi atau Nyi Subang Larang. Kian Santang merupakan anak sulung dari tiga bersaudara yaitu dirinya sendiri, Dewi Rara Santang, dan Walangsungsang. Konon katanya, sedari kecil Kian Santang adalah seorang anak yang tangguh sampai ada cerita bahwa ia belum pernah melihat darahnya sendiri dikarenakan belum pernah ada orang yang berhasil melukainya sama sekali. Takjub dengan kemampuannya sendiri, Kian Santang terus mencari siapakah gerangan yang memiliki ilmu jauh lebih kuat darinya.
Ketika Kian Santang menginjak usianya yang ke-22 pada tahun 1337 masehi, ia diangkat menjadi dalem Bogor. Kejadian ini bertepatan dengan diangkatnya Prabu Munding Kawati sebagai panglima besar kerajaan Pajajaran. Kejadian tersebut menjadi sebuah kejadian paling istimewa dan paling historis dalam lingkungan Pajajaran karena kejadian ini meninggalkan sebuah prasasti yang dikenal banyak orang, yaitu Batu Tulis Bogor.
Ada beberapa versi tentang sejarah Prabu Kian Santang yang merasa terlalu kuat sehingga ia mencari lawan yang sepadan untuknya. Versi pertama adalah ia meminta ayahnya untuk mencarikan siapapun itu yang bisa mengalahkannya. Mendengar ini, sang ayah segera memanggil seorang ahli nujum demi memberikan tantangan kepada anaknya. Ketika hampir putus asa karena tidak ada ahli nujum yang mampu memberi tahu dimana ada orang yang mampu mengalahkannya, datanglah seorang kakek yang berkata bahwa jauh di tanah Mekkah sana, ada seseorang bernama Sayyidina Ali yang mampu mengalahkan Kian Santang. Sebelum Kian Santang mampu melawan Ali, kakek tersebut berkata bahwa Kian Santang harus melakukan mujasmedi di Ujung Kulon dan mengubah namanya menjadi Galantrang Setra yang jika diartikan secara harfiah menjadi “berani dan suci”. Versi kedua mengatakan bahwa pertemuan Kian Santang dan kakek tua terjadi di dalam mimpi yang berulang berkali-kali, dimana akhirnya sang Kakek menunjuk ke arah lautan dan berkata bahwa orang yang mampu mengalahkan Kian Santang ada di seberang lautan.
Terlepas dari beberapa versi yang berbeda tentang pertemuan Kian Santang dengan sang kakek, hal yang pasti adalah kemudian Kian Santang pergi untuk mencari kakek ini. Lagi, beberapa versi menggambarkan hal yang tidak sama dimana satu versi menyatakan Kian Santang pergi ke Mekkah dan yang satu lagi hanya mengatakan bahwa Kian Santang pergi menyeberangi lautan. Ketika akhirnya tiba di tempat tujuan, ia tidak langsung bertemu dengan orang yang bernama Ali tapi harus tersesat di antara keringnya padang pasir sebelum akhirnya bertemu seorang kakek tua. Pertemuannya dengan sang kakek ini ada dalam semua versi cerita, dan hal yang ditugaskan oleh sang kakek sebelum mengantarkan Kian Santang bertemu dengan Ali juga sama, yaitu Kian Santang harus mencabut sebuah tongkat yang ditancapkan ke tanah.
Lagi-lagi sejarah Prabu Kian Santang mengalami perbedaan versi ketika satu versi menyatakan begitu Kian Santang mengaku kalah, kakek yang meminta tolong untuk dicabutkan tongkatnya adalah Ali, sementara versi lain mengatakan bahwa Ali kemudian datang untuk mencabut tongkat tersebut setelah sebelumnya membaca bismillah. Terlepas mana yang terjadi, Kian Santang kemudian memeluk agama Islam dan kembali pulang ke Pajajaran dengan sesekali pergi ke Mekah untuk belajar lebih dalam tentang agama tersebut.
Penyebaran Islam Oleh Kian Santang
Awal mula niatan penyebaran Islam oleh Kian Santang adalah ketika ia pertama kali kembali ke Pajajaran dan menceritakan tentang ke-Islamannya pada Prabu Siliwangi. Bukannya senang, Prabu Siliwangi malah kaget dan menolak ajakan anaknya untuk masuk Islam. Karena hal ini, Kian Santang kembali menekuni Islam di Mekah dan baru kembali setelah tujuh tahun. Begitu kembali, ia mencoba untuk pertama-tama menyebarkan ajaran agama yang baru ia pelajari kepada masyarakat sekitar. Mengingat ide agama Islam yang membawa keselamatan di dunia dan di Akhirat, masyarakat Pajajaran dengan senang hati menerima agama baru tersebut. Baru setelah banyak masyarakat yang menganut Islam ia berani memutuskan untuk kembali mengajak ayahnya menganut agama yang ia ajarkan.
Mendengar berita bahwa Kian Santang telah kembali, Prabu Siliwangi yang harga dirinya terlalu tinggi memutuskan untuk pergi dari kerajaan daripada harus diajak untuk masuk Islam. Setelah kabur dengan sebelumnya menghancurkan kerajaan, Prabu Siliwangi sempat beberapa kali terkejar oleh Kian Santang, tapi ia tetap tidak tertarik untuk masuk ke dalam agama Islam. Akhirnya, Kian Santang dengan berat hati kembali ke Pajajaran untuk membangun ulang kerajaan tersebut sambil terus menyebarkan ajaran Islam ke daerah-daerah pelosok. Karena hal inilah, ketika kita membicarakan tentang berkembangnya Islam di daerah Jawa Barat, kita tidak bisa melupakan sejarah Prabu Kian Santang.
Reactions:

0 comments:

Daftarkan Email mu..!!!